Minggu, 1 Februari 2026
spot_img

Ngalap Berkah MTQ

*Oleh : Wahid Abdulrahman

PADA tahun ini Provinsi Jawa Tengah akan menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional yang direncanakan digelar di bulan September. Sebagai sebuah repetisi sejarah 1979 di mana MTQ dilaksanakan di Kota Semarang.

Dari sudut pandang sejarah, ketika pertama kali diselenggarakan pada 1968 di Makasar, harus diakui tidak lepas dari upaya menciptakan situasi sosial politik yang lebih harmonis dan kondusif, khususnya relasi antara umat Islam dan pemerintah pascaperistiwa 1966.

Meskipun kemudian relasi antara negara dan umat Islam mengalami gelombang surut di era orde baru dan baru kembali mengalami pasang di akhir 1980 an hingga awal 1990 an sebagaimana diungkap oleh William Liddle (1996) sebagai The Islamic Turn.

Gelombang kebangkitan Islam yang ditandai oleh semakin mengemukanya berbagai nilai dan ritual Islam di ruang publik termasuk di dalamnya kelahiran Bank Muamalat dan terbitnya Republika sebagai Bank dan surat kabar Islam pertama di Indonesia. Demikian hanya dengan berbagai kegiatan bernuansa Islam yang mulai marak diselenggarakan di instansi pemerintah.

Berkah MTQ sebagai penyejuk dan penguat relasi pemerintah dan umat Islam tentu memiliki drajat yang berbeda di tengah iklim politik saat ini di mana pemerintah sangat akomodatif terhadap kepentingan umat. Dalam konteks kebangsaan, sudah tentu MTQ menjadi salah satu upaya menghasilkan qori dan qoriah terbaik yang kelak bisa menjadi duta Indonesia di kancah internasional. Sebagai bagian dari diplomasi kebudayaan sekaligus meneguhkan citra positif Indonesia sebagai negara Muslim.

Dalam konteks keislaman adalah bagian dari syiar Islam dengan berbagai sudut pandangnya. Sebagai tuan rumah, tentu reputasi Jawa Tengahmenjadi pertaruhan sekaligus diharapkan membawa keberkahan yang melimpah. Lazimnya sebuah kompetisi tentu menjadi juara umum adalah satu target yang lumrah. Terlebih posisi tuan rumah sebagai juara umum sudah sering terjadi bahkan menjadi tren.

Dengan target tersebut sudah tentu, MTQ memiliki peran berlipat dalam meningkatkan kaderisasi dan kualitas seperti halnya qori dan qoriah sesuai dengan cabang yang dilombakan. Waktu yang tersisa mutlak dioptimalkan untuk meraih juara umum. Di sinilah kehadiran, keberpihakan, dan sinergi dengan Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengahdan tingkat kabupaten/kota menjadi sangat urgen.

Reputasi berikutnya menyangkut kemampuan sebagai tuan rumah untuk memberikan pelayanan terhadap ribuan peserta yang hadir dari seluruh penjuru Nusantara. Sukses sebagai tuan rumah dengan salah satu indikator kepuasan para kafilah. Bukankah tuan rumah yang baik adalah mampu memberikan pelayanan terbaik bagi tamu yang hadir.

ARTIKEL TERKAIT

- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

BERITA TERBARU