Prof. Didik J. Rachbini: Perkuat Perdagangan, Jangan Meninggalkan Jepang
- account_circle Fahroji
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JURNAL PEMALANG — Rektor Universitas Paramadina sekaligus Ekonom INDEF Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D. menegaskan pentingnya penguatan hubungan perdagangan Indonesia dengan Jepang di tengah dinamika global yang semakin kompetitif. Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperdalam kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.
Dalam pandangannya, hubungan dagang Indonesia dengan Jepang memiliki karakter komplementer yang kuat, berbeda dengan hubungan dagang Indonesia dengan Cina yang cenderung bersifat substitutif dan kompetitif.
“Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi sehingga bersifat win-win di mana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing,” kata Prof. Didik.
Ia menjelaskan bahwa struktur perdagangan tersebut memungkinkan kedua negara saling mengisi kebutuhan, di mana Indonesia mengekspor sumber daya alam dan Jepang memasok teknologi serta investasi industri.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa hubungan dagang dengan China memiliki tantangan serius bagi industri dalam negeri. Ia menyatakan,
“Sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis” ujarnya.
Hal ini, menurutnya, menyebabkan tekanan besar terhadap sektor manufaktur nasional.
“Deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut turut memicu defisit neraca perdagangan manufaktur serta melemahkan posisi UMKM.
Dalam analisisnya, meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang relatif rendah, skala ekonominya tetap sangat besar dan strategis. Oleh karena itu, ia menilai kunjungan presiden tidak boleh sekadar bersifat simbolik.
“Jadi dengan kunjungan Presiden Prabowo Tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan,” ujarnya.
Prof. Didik juga menekankan pentingnya tindak lanjut konkret pasca kunjungan. Ia menyebut bahwa pemerintah perlu merancang strategi promosi kerja sama yang lebih terarah untuk memperkuat integrasi Indonesia dalam rantai pasok global.
Ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa kerja sama dengan Jepang berpotensi mendorong transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan sektor manufaktur seperti otomotif dan elektronik.
Jepang, kata dia, mengimpor energi, batubara, LNG, serta produk pertanian dan perikanan dari Indonesia, sementara Indonesia memperoleh mesin, teknologi tinggi, dan investasi industri dari Jepang.*
- Penulis: Fahroji



