Pemerintah Lakukan Gerak Cepat Tangani Dampak Korban Gempa Bumi di NTT
- account_circle Fahroji
- calendar_month 14 jam yang lalu
- print Cetak

JURNAL PEMALANG — Pemerintah terus bergerak cepat menangani dampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi kemarin.
Tercatat per Minggu (16/8), tim gabungan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus bersiaga menyisir lokasi untuk mendata dan memverifikasi jumlah korban.
“Untuk mendukung layanan medis kedaruratan, sebuah Rumah Sakit Lapangan telah didirikan dan beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai,” kata Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan melalui keterangan tertulis.
Berton juga melaporkan, terkait akses mobilitas logistik dan evakuasi, jalur lintas darat Larantuka ke Maumere terpantau sudah terhubung dan dapat dilalui.
“Namun, tim penanganan masih berupaya mencari jalur alternatif lain lantaran akses jalan darat penghubung Ende ke Nagekeo hingga kini masih terputus akibat gempa,” kata dia.
Gempa bumi di NTT yang terjadi pada Sabtu (15/8), memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi. Bencana ini menimbulkan 47 korban jiwa dan memicu kerusakan bangunan yang sangat masif.
Berdasarkan pemutakhiran data BNPB per Minggu (16/8) pukul 00:00 WIB, konsentrasi pengungsi terbesar di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa. Mereka tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar.
“Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat,” kata Berton.
- Penulis: Fahroji
