Sulap Sampah Plastik Jadi Cuan, Begini Cara Mahasiswa KKN Undip Berdayakan Warga Desa Pendowo
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 54 menit yang lalu
- print Cetak

JURNAL PEMALANG — Sebanyak puluhan anggota PKK dan Kader Lingkungan Desa Pendowo, Kecamatan Bodeh, mengikuti pelatihan pengolahan sampah anorganik menjadi kerajinan bernilai jual di Balai Desa Pendowo, Jumat (8/8/2026) lalu.
Kegiatan yang digagas Tim II KKN-R Universitas Diponegoro ini sekaligus membekali warga dengan cara menghitung harga jual produk dan menulis promosi di media sosial.
Pelatihan dibagi dalam tiga sesi berturut-turut. Sesi pertama membahas teknik pembuatan kerajinan dari tutup botol dan botol plastik bekas, disusul materi perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) dan harga jual, lalu ditutup dengan materi copywriting untuk promosi produk.
Dhiya Salsabila dari Program Studi Ekonomi yang membawakan materi kerajinan, mengatakan pelatihan ini berangkat dari kebiasaan warga yang masih membakar atau menimbun sampah plastik di halaman rumah, meski desa sudah memiliki Tempat Pembuangan Sampah.
“Sampah plastik itu butuh waktu ratusan tahun untuk terurai secara alami, jadi daripada dibakar atau ditimbun, lebih baik kami ajak ibu-ibu di sini mengolahnya jadi kerajinan yang bisa dijual,” kata Dhiya, dari Program Studi Ekonomi, Jumat (8/8/2026) lalu.

Dalam sesi tersebut, peserta dipandu membuat dua jenis produk, yakni gantungan kunci dari tutup botol yang dilelehkan dengan setrika lalu dicetak menggunakan cetakan kue, serta hiasan gantung dari potongan botol plastik yang dirangkai dengan tali senar elastis dan manik-manik. Kedua produk dipilih karena bahan bakunya mudah didapat dan proses pembuatannya tidak membutuhkan alat khusus.
Materi kedua dibawakan Majda Nabila Weme dari Program Studi Akuntansi Perpajakan. Ia menjelaskan cara menghitung HPP dengan menjumlahkan seluruh biaya bahan baku dan operasional, lalu membaginya dengan jumlah produk jadi. Sebagai contoh, ia memaparkan simulasi produksi empat gantungan kunci dengan total biaya bahan baku dan operasional sebesar Rp8.980, sehingga HPP per produk sekitar Rp2.245. Setelah ditambah margin laba 45 persen, harga jual per gantungan kunci ditetapkan Rp3.500.
“Banyak pelaku usaha rumahan menentukan harga jual hanya dengan kira-kira, padahal itu bisa membuat mereka rugi tanpa sadar. Makanya kami ajarkan cara menghitung HPP dulu, baru menentukan margin keuntungan yang wajar,” kata Majda, Program Studi Akuntansi Perpajakan.
Simulasi serupa juga disampaikan untuk produk hiasan gantung, dengan total biaya produksi Rp16.333 untuk empat produk, HPP per produk Rp4.083, dan harga jual akhir Rp4.695 setelah ditambah margin laba yang sama.
- Penulis: Tim Redaksi


