Dari Transmigran ke Kursi Kepemimpinan, Jejak Diaspora Jateng Sukses di Lampung
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- print Cetak

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi pabrik kopi milik warga transmigran asal Jawa Tengah.(Foto: is)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JURNAL PEMALANG – Etos kerja, ketekunan, dan daya tahan hidup menjadi bekal utama yang dibawa para perantau asal Jawa Tengah ketika meninggalkan kampung halaman puluhan tahun silam.
Nilai-nilai itu pula yang kini menjelma menjadi fondasi kesuksesan, melahirkan tokoh-tokoh penting di Provinsi Lampung, dari pelaku usaha hingga pemimpin daerah.
Diaspora Jawa, khususnya dari Jawa Tengah, telah lama menyebar ke berbagai penjuru Nusantara. Lampung menjadi salah satu tujuan utama, terutama sejak program transmigrasi digulirkan pemerintah pada pertengahan abad ke-20.
Dari ladang-ladang yang dulu masih perawan, para perantau itu membangun kehidupan baru, bertahan dalam keterbatasan, dan perlahan menata masa depan.
Salah satu kisah yang mencerminkan perjalanan panjang tersebut adalah Riyanto Pamungkas, Bupati Pringsewu periode 2025–2030. Ia merupakan anak bungsu dari sebelas bersaudara, lahir dari pasangan transmigran mandiri asal Jawa yang datang ke Lampung pada 1956.
“Orang tua saya transmigrasi mandiri tahun 1956. Banyak masyarakat Jawa, baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat, yang hijrah ke Lampung. Alhamdulillah, mereka berkontribusi besar bagi pembangunan daerah ini,” ujar Riyanto saat menerima kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Rabu, 7 Januari 2026.
Ayah Riyanto bekerja sebagai buruh, sementara ibunya meracik kopi secara rumahan. Dari lingkungan sederhana itulah ia belajar tentang kerja keras dan keteguhan. Pada usia 21 tahun, Riyanto mulai merintis usaha kopi sangrai.
Perjalanan panjang itu berbuah pada berdirinya pabrik Kopi Klangenan pada 2010, yang kini mampu menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
- Penulis: Fahroji




