Ahmad Luthfi Komitmen Akan Kirim Seperangkat Gamelan ke Desa Bagelen di Lampung
- calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JURNAL PEMALANG – Untuk memperkuat ikatan budaya warga transmigran dan keturunan asal Jawa Tengah yang telah lama menetap di Desa Bagelen, Kecamatan Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berkomitmen akan mengirimkan seperangkat gamelan untuk warga.
“Gamelannya nanti dikirim langsung oleh Direktur Utama Bank Jateng ke sini. Sampun beres (sudah beres),” ujar Ahmad Luthfi saat berdialog dengan warga di Balai Desa Bagelen, Gedongtataan, Pesawaran, Lampung, Rabu, 7 Januari 2026.
Menurutnya, gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan simbol identitas dan perekat kebudayaan Jawa yang harus terus dirawat, di mana pun masyarakat Jawa berada. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata Ahmad Luthfi, berkomitmen menjaga hubungan kultural dan emosional dengan warga keturunan Jawa Tengah di daerah transmigrasi.
Perangkat gamelan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya merawat dan melestarikan warisan budaya leluhur warga Desa Bagelen yang berasal dari Tanah Jawa, khususnya Jawa Tengah. Bantuan itu diharapkan menjadi sarana penguat identitas kultural sekaligus ruang ekspresi seni bagi generasi penerus.
“Itu sumbangan untuk nguri-uri sejarah dan budaya Jawa,” ujar Ahmad Luthfi.
Sumbangan seperangkat gamelan tersebut merupakan jawaban konkret atas aspirasi yang disampaikan Kepala Desa Bagelen, Merdi Parmanto, saat berdialog dengan Gubernur Ahmad Luthfi. Merdi mengungkapkan, berangkat dari sejarah panjang hubungan Desa Bagelen dengan Jawa Tengah, masyarakat berharap adanya sebuah kenang-kenangan yang sekaligus menjadi penghubung kultural antargenerasi.
“Kami berharap ada kenang-kenangan untuk desa kami yang tidak mungkin akan terlupakan, yaitu seperangkat gamelan,” ujarnya.
Seperangkat gamelan tersebut dinilai sangat membantu dalam menghidupkan kebudayaan di Desa Bagelen. Selama ini, kata Merdi, setiap peringatan hari jadi Desa Bagelen selalu diwarnai pertunjukan wayang kulit, sebuah tradisi yang tak pernah terputus sejak desa tersebut berdiri pada 1905 hingga perayaan terakhir pada 2025.
- Penulis: Fahroji




