Nawal juga menyoroti dampak positifnya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Hingga triwulan I 2025, perekonomian Jepara tercatat tumbuh sebesar 5,6 persen, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 di angka 4,22 persen.
“Kemudian kekayaan sumber daya alam, Jepara ini juga menjadi penggerak perekonomian Jawa Tengah. Maka di sini upaya untuk kolaborasi, penguatan strategi, harapannya terus kita lakukan,” kata dia.
Istri Wakil Gubernur ini mengatakan, Jateng memiliki beragam produk kerajinan dan UMKM unggulan. Contohnya batik dengan motif kearifan lokal di masing-masing daerah, antara lain batik Pekalongan, batik Solo, dan batik Lasem.
Namun demikian, tantangan saat ini adalah proses produksi batik yang masih berhenti pada bentuk kain. Atas kondisi ini, Dekranasda Jateng menggalakkan pengembangan batik ready to wear agar memiliki nilai tambah dan daya jual yang lebih tinggi.
“Maka yang menjadi fokus Dekranasda Provinsi pada hari ini adalah kita mengembangkan pelatihan, supaya nantinya desainer-desainer muda didorong untuk bisa mengolah kain ini menjadi ready to wear,” beber Nawal.
Lebih lanjut, dia berpesan kepada Dekranasda di setiap daerah agar terus memberikan pendampingan kepada pengrajin UMKM, mengembangkan inovasi, serta meningkatkan daya saing produk. Kolaborasi dan sinergi, menjadi hal yang mutlak dilakukan.
Sementara Ketua Dekranasda Kabupaten Jepara, Laila Saidah Witiarso mengatakan, dalam operasionalnya, Galeri Dekranasda menggandeng 65 IKM dengan beragam produk. Mulai dari kerajinan kayu, tenun troso, batik ecoprint, hingga rajut.
Ia berharap, gerai yang hadir dengan wajah baru ini dapat menjadi sarana pameran, promosi, serta penguatan jejaring usaha, sehingga para pengrajin di Jepara mampu naik kelas dan berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi daerah.


