Rabu, 12 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Utama » Speling Menyusur Desa, Menjemput Sehat Warga

Speling Menyusur Desa, Menjemput Sehat Warga

  • account_circle Fahroji
  • calendar_month Jumat, 26 Des 2025 | 23:05 WIB
  • print Cetak

JURNAL PEMALANG – Bagi sebagian warga desa di Jawa Tengah, bertemu dokter spesialis dulunya adalah kemewahan. Jarak yang jauh, biaya yang tak sedikit, dan keterbatasan fasilitas kerap membuat keluhan kesehatan dipendam begitu saja.

Kini, cerita itu perlahan berubah sejak hadirnya Program Dokter Spesialis Keliling (Speling). Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, layanan kesehatan tidak lagi menunggu masyarakat datang ke rumah sakit.

Negara justru bergerak mendekat, menyapa warga hingga ke desa-desa. Speling hadir dengan satu prinsip sederhana: layanan kesehatan harus mudah dijangkau dan gratis.

Program yang diluncurkan pada Maret 2025 itu telah menjangkau seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yunita Dyah Suminar, menyebut hingga Desember 2025 Speling telah dilaksanakan lebih dari 876 kegiatan.

“Program Speling sudah menjangkau 748 desa, 388 kecamatan, dengan total sasaran mencapai 83.137 orang. Dan ini akan terus bergerak sampai akhir tahun. Masyarakat sangat mengharapkan program Pak Gubernur ini terus berlanjut sampai semua terlayani,” ujar Yunita, Selasa, 23 Desember 2025.

Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada warga yang kini bisa memeriksakan kesehatan tanpa rasa cemas memikirkan biaya. Ada lansia yang untuk pertama kalinya berkonsultasi langsung dengan dokter spesialis, serta keluarga yang mulai memahami pentingnya deteksi dini penyakit.

Speling tak hanya membawa layanan pengobatan, tetapi juga pesan pencegahan. Edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari setiap kunjungan. Warga dikenalkan pada faktor risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, serta didorong untuk membangun kebiasaan hidup sehat.

“Makan harus bergizi seimbang, istirahat cukup, dan jangan stres. Pencegahan itu penting,” kata Yunita.

Pada awalnya, Speling dirancang untuk desa-desa miskin dengan akses layanan kesehatan yang terbatas. Namun, antusiasme masyarakat membuat program ini berkembang melampaui rencana awal.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan layanan di desa miskin dituntaskan terlebih dahulu, sebelum memperluas jangkauan ke lebih dari 8.559 desa dan kelurahan di seluruh provinsi.

“Banyak masyarakat desa yang menginginkan Speling hadir di wilayah mereka. Setelah desa miskin diselesaikan, program ini akan kami lanjutkan agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” jelas Yunita.

Keberhasilan Speling, menurut Yunita, tak lepas dari kolaborasi lintas sektor. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota bekerja bersama dengan dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, DPRD, perguruan tinggi, hingga media.

“Kalau tidak ada kerja sama, program ini tidak akan efektif,” tegasnya.

Gubernur Ahmad Luthfi menilai, Speling sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam menghadirkan layanan kesehatan terbaik hingga ke tingkat desa. Menurutnya, pembangunan kesehatan harus dimulai dari unit terkecil masyarakat.

“Di desa itu masyarakat kadang jarang tersentuh dokter, apalagi dokter spesialis. Maka melalui Speling, sasarannya jelas: masyarakat desa harus sehat,” kata Ahmad Luthfi. Ia meyakini, kesehatan desa akan menjadi fondasi kesehatan wilayah yang lebih luas.

“Kalau seluruh desa sehat, kecamatannya sehat. Kalau kecamatannya sehat, kabupatennya sehat. Kalau kabupatennya sehat, provinsinya juga sehat. Basisnya tetap dari desa,” ujarnya.

Menurut orang nomor satu di Jawa Tengah itu, Speling harus dikerjakan secara gotong royong agar hasilnya tidak sekadar pengobatan sesaat, tetapi membentuk kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan secara mandiri.

“Sandang, pangan, dan papan itu cukup. Tapi kalau tidak sehat, tidak ada gunanya. Karena itu, kesehatan menjadi prioritas utama,” tandasnya.

Kini, Speling menjelma lebih dari sekadar program layanan kesehatan. Ia menjadi simbol kehadiran negara yang mendengar dan menyapa. Di desa-desa Jawa Tengah, ketika dokter spesialis datang tanpa biaya, wajah kemanusiaan kebijakan publik menemukan maknanya. Kesehatan bukan lagi kemewahan, melainkan hak yang benar-benar dirasakan.*

  • Penulis: Fahroji

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antisipasi Banjir di Musim Hujan, Koramil 04 Comal Lakukan Gerakan Bersih Kali Banger

    Antisipasi Banjir di Musim Hujan, Koramil 04 Comal Lakukan Gerakan Bersih Kali Banger

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026 | 19:45 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Untuk mencegah terjadinya banjir di mausim hujan, Koramil 04 Comal melaksanakan kegiatan Gerakan Bersih Sungai Banger bersama masyarakat dan unsur terkait. Kegiatan tersebut berlangsung di aliran Sungai Banger, tepatnya di sebelah utara Lapangan Jatidiri Comal, Kelurahan Purwoharjo, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Minggu(18/01/20226) Gerakan bersih sungai ini merupakan bentuk kepedulian TNI AD bersama […]

  • Sat Reskrim Polres Grobogan Tangkap 2 Pelaku Peredaran Obat Petasan

    Sat Reskrim Polres Grobogan Tangkap 2 Pelaku Peredaran Obat Petasan

    • calendar_month Jumat, 22 Mar 2024 | 09:16 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNALPEMALANG.ID – Sat Reskrim Polres Grobogan mengamankan dua orang pelaku peredar bahan peledak atau obat petasan di dua lokasi yang berbeda, Kamis (21/3/2024). Dua orang tersebut berinisial BM (25) warga Desa Karanganyar Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan dan AJ (41) warga Desa menduran Kecamatan Brati Klambu. Selain pelaku, Sat Reskrim Polres Grobogan juga mengamankan sebanyak 5 […]

  • Tim Volly Putra SMK Nusantara 1 Comal Berhasil Meraih Juara 3 Tingkat Kecamatan

    Tim Volly Putra SMK Nusantara 1 Comal Berhasil Meraih Juara 3 Tingkat Kecamatan

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2024 | 19:51 WIB
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Jurnal Pemalang – Tim putra SMK Nusantara 1 Comal Jawa Tenggah berhasil meraih juara 3 pada lomba volly tingkat Kecamatan Comal, Kamis (14/11/2024). Perlombaan tersebut merupakan rangkaian peringatan HUT Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) ke-79 dan Hari Guru Nasional 2024. Kepala SMK Nusantara 1 Comal Kartono Ahmad mengatakan, kegiatan perlombaan ini merupakan ajang silaturahmi antar […]

  • Pisah Sambut Komandan Radar 214 Tegal, Anom Widiyantoro: Pemkab Pemalang Siap Lanjutkan Sinergi

    Pisah Sambut Komandan Radar 214 Tegal, Anom Widiyantoro: Pemkab Pemalang Siap Lanjutkan Sinergi

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025 | 07:43 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Bupati Pemalang Anom Widiyantoro menghadiri acara pisah sambut Komandan Satuan Radar 214 Tegal yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Tegal, Minggu, 13 Juli 2025. Dalam acara tersebut, jabatan komandan resmi diserahterimakan dari Letkol Lek Prastyo Tri Adi Nugroho kepada Mayor Lek Indra Febrian Nugroho. Dalam sambutannya, Bupati Anom menyampaikan terima kasih dan apresiasi […]

  • TMMD Sengkuyung Tahap II 2026 di Desa Klareyan Resmi Ditutup, Fokus Bangun Negeri dari Desa

    TMMD Sengkuyung Tahap II 2026 di Desa Klareyan Resmi Ditutup, Fokus Bangun Negeri dari Desa

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026 | 12:18 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap II Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Pemalang resmi berakhir. Penutupan program ditandai dengan upacara khidmat yang dipusatkan di Lapangan Desa Klareyan, Kecamatan Petarukan, pada Kamis (21/5/2026). Komandan Kodim (Dandim) 0711/Pemalang, Letkol Inf Muhammad Arif, yang juga menjabat sebagai Dansatgas TMMD, bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam […]

  • Pemilu Tanpa Publik, Kekuasaan Tanpa Kontrol

    Pemilu Tanpa Publik, Kekuasaan Tanpa Kontrol

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026 | 07:54 WIB
    • account_circle Adm min
    • 0Komentar

    Oleh: Teguh Eko Prasetyo* Wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD dengan alasan efisiensi anggaran sejatinya bukan upaya menghemat demokrasi, melainkan menyederhanakannya dengan cara paling berbahaya: mengeluarkan rakyat dari proses pengambilan keputusan. Di balik bahasa teknokratis tentang biaya, tersembunyi pilihan politik mendasar tentang apakah negara masih menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Hak memilih pemimpin bukanlah […]

expand_less