Batik Bebas SMP Muhapuja: Jalan Sunyi Dakwah Kultural di Dunia Pendidikan
- account_circle Fahroji
- calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
- print Cetak

Seragam Batik SMP Muhammadiyah Purwojati, Banyumas, Jateng.(Foto: Tarqum A)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Dampak kebijakan ini dirasakan langsung oleh para siswa. Mufida Aulia Zahra, siswi kelas 8 yang mengaku lebih percaya diri dan nyaman mengikuti pembelajaran setiap hari Rabu.
“Kalau pakai batik bebas rasanya lebih santai, tapi tetap sopan. Kami jadi lebih berani tampil dan tidak merasa dibeda-bedakan,” tuturnya.
Sementara itu, kebijakan sepatu bebas ditempatkan dalam bingkai adab dan kesetaraan. Spiritnya sejalan dengan keteladanan KH. AR Fakhruddin yang menekankan kesederhanaan dan empati. Melalui kebijakan ini, siswa diajak memahami bahwa setiap anak datang dari latar belakang yang beragam, dan sekolah adalah ruang bersama yang memuliakan semuanya tanpa kecuali.
Vicky Gonzales, siswa kelas 7B mengaku merasa senang dan bahagia dengan kebijakan penggunaan batik dan sepatu bebas setiap hari Rabu. Menurutnya, suasana sekolah menjadi lebih menyenangkan dan tidak kaku, sekaligus memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa meninggalkan nilai kerapian dan kebersamaan.
Setiap hari Rabu, suasana sekolah pun menjadi lebih cair dan dialogis, dihiasi ragam motif batik yang dikenakan siswa. Di ruang inilah pendidikan berkemajuan menemukan wujudnya: membahagiakan, memerdekakan, sekaligus mendisiplinkan.
Melalui ikhtiar sederhana namun bermakna ini, SMP Muhammadiyah Purwojati menegaskan kembali pesan para pendiri Muhammadiyah: bahwa pendidikan adalah dakwah paling sunyi namun paling berpengaruh. Dan dari ruang kelas yang ramah serta memuliakan manusia inilah peradaban Islam Berkemajuan terus ditumbuhkan.(Tarqum Aziz JurnalisMu Banyumas Raya)*
- Penulis: Fahroji



