Cahaya Islam di Jerman: Upaya Pengakuan Identitas Islam di Jantung Eropa
- account_circle Fahroji
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Cahaya Islam di Jerman. (SS Zoom)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Ini tantangan sekaligus ujian bagi masyarakat Muslim Eropa dalam berdakwah, untuk lebih kuat lagi dan lagi,” kata Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, dalam sambutannya.
Selain kehidupan sosial, Prof. Didik mengatakan bahwa diskriminasi juga berdampak pada kesejahteraan ekonomi masyarakat Muslim Eropa, misalnya, diskriminasi terhadap cara berpakaian atau hijab.
“Meskipun rasisme dan Islamofobia masih dirasakan di Eropa, saya memandangnya sebagai sebuah tantangan untuk mengokohkan jati diri umat Muslim di tengah masyarakat Eropa,” imbuh Didik.
Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri memaparkan, Islam telah menjadi agama terbesar kedua di Jerman dengan jumlah pemeluk mencapai 6 juta jiwa atau sekitar 7 persen dari total populasi. Sebanyak 3 juta di antaranya telah menjadi warga negara Jerman.
“Pertumbuhan Islam di Jerman memiliki sejarah panjang, mulai dari gelombang ‘Guest Workers’ (tenaga kerja migran) asal Turki pada tahun 1950-an hingga gelombang pengungsi konflik Timur Tengah pada 2011-2013,” tutur alumni Universitas Goethe Frankfurt ini.
Saat ini, komposisi Muslim Jerman didominasi oleh keturunan Turki (45%), diikuti oleh Arab (27%), serta Afghanistan dan Iran (19%).
Suratno juga menyebutkan jejak historis Indonesia di Jerman melalui sosok pelukis Raden Saleh Syarif Bustaman yang kediamannya di Maxen kini menjadi “Masjid Biru” (Das Blaue Moschee), simbol kolaborasi seni dan religi.
Tak hanya seni, kontribusi intelektual Indonesia juga diakui secara fundamental di Jerman melalui kiprah Ingenieur B.J. Habibie.
- Penulis: Fahroji



