Dari Transmigran ke Kursi Kepemimpinan, Jejak Diaspora Jateng Sukses di Lampung
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- print Cetak

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengunjungi pabrik kopi milik warga transmigran asal Jawa Tengah.(Foto: is)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kesuksesan di dunia usaha mengantarkan Riyanto ke panggung kepemimpinan publik. Di Kabupaten Pringsewu, wilayah dengan mayoritas penduduk Jawa, sekitar 70 persen, ia dipercaya memimpin hingga 2030.
“Saya ditakdirkan menjadi bupati yang notabene Pujakesuma, Putra Jawa Kelahiran Sumatera. Amanah ini bukan sekadar jabatan, tapi tanggung jawab untuk melayani masyarakat Pringsewu,” tuturnya.
Bagi Riyanto, kunci keberhasilan diaspora terletak pada ketekunan, etos kerja tinggi, dan kemampuan bertahan. Ia menyebut, perantau terbiasa berjuang lebih keras karena memulai segalanya dari nol, tanpa kemewahan dan tanpa jaring pengaman.
“Pendatang biasanya lebih ‘fight’. Bisa menahan lapar, menahan segalanya, karena tidak punya apa-apa. Tapi justru itu yang membentuk daya tahan,” katanya.
Namun, ia menegaskan satu hal yang tak boleh ditinggalkan: jati diri. “Tetap rendah hati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Identitas harus dijaga, sekaligus menghormati budaya tempat kita hidup.”
Jejak serupa juga terlihat pada sosok Jihan Nurlela, Wakil Gubernur Lampung periode 2025–2030. Ia lahir dan besar di Lampung dari keluarga transmigran yang datang pada 1982. Ayahnya berasal dari Jawa Timur, sementara ibunya dari Rembang, Jawa Tengah.
“Saya lahir di Lampung. Orangtua saya transmigran. Nilai-nilai kerja keras dan kesederhanaan itu yang kami pegang sampai sekarang,” kata Jihan.
Tak hanya dirinya, dua saudara kandung Jihan juga dikenal sebagai tokoh di bidang masing-masing. Ia menilai keberhasilan diaspora tak lepas dari kemampuan menjaga budaya baik sekaligus beradaptasi dengan lingkungan baru.
- Penulis: Fahroji




