Selasa, 31 Mar 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puisi Anto Narasoma Yang Gurih dan Masih Hangat

Puisi Anto Narasoma Yang Gurih dan Masih Hangat

  • account_circle Fahroji
  • calendar_month Senin, 13 Jan 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Jacob Ereste

Sungguh saya mengagumi puisi Anto Narasoma yang berjudul “Memintal Kehidupan”. Terasa sekali bahasanya sederhana tapi lugas menggambarkan suasana batin antara kedua tokoh, Sang Nenek dan Cucu. Dan sejujurnya, saya pun baru mengenal puisi ini Anto Narasoma lewat tayangan media sosial, awal Januari 2025. Padahal, bisa saya pastikan jam terbang berpuisinya sudah panjang dan jauh dia tempuh.

Agaknya memang, akibat keterbatasan informasi, publikasi dan komunikasi saja yang membuat karya sastra dan penyairnya terkesan jadi kurang membumi di tanah air kita, sehingga penyair Indonesia nyaris tak pernah dilirik oleh panita Nobel Sastra di dunia.

Saya suka narasi puisinya yang seperti lukisan realis, tidak terlalu abstrak, sehingga muatan nilai spiritual yang diusung oleh karya Anto Narasoma ini enak dan jelas untuk ditangkap pesan moralbta yang ingin dia sampaikan. Saya kira, warna puisi dan gaya penulisannya yang bersahaja ini dapat dijadikan semacam model bagi kawan-kawan penyair yang masih ingin mencari bentuk dalam proses kreatif menulis puisi atau karya sastra pada umumnya yang tidak cuma untuk berindah- indah semata. Katena itu sata percaya bila pengalaman serta pencercapan batinnya dalam bentuk puisi sudah lebih terang mengarah mendekati genre puisi esai seperti yang dimotori dan digagas Denny JA dan kawan-kawan lewat media sosial dan penerbitan serta beragam acara sastra yang makin memberi harapan bangkitnya gairah sastra — khususnya dunia kesenian di Indonesia — yang terkesan lesu mulai tahun 1990-an hingga sekarang, jadi semacam kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau.

Penuturan sang Nenek kepada Cucu; sudah Nenek pintal karakter kehidupan yang mewarnai lukisan kau dan aku, ujar sang Nenek, sungguh memberi kesan adanya moral yang termuat dalam puisi ini. Apalagi kemudian dipertegas dengan ; begitu luas kanvas ini, setelah benang-benang putih itu kurajut agar warna kainnya membersihkan kata hatimu.

Artinya, betapa luasnya kanvas yang tidak terbatas itu jelas menggambarkan wilayah moral yang tidak bertepi. Sehingga benang putih yang dirajut merupakan simbolik dari kesucian hati yang harus dibersihkan — tak hanya dari kata-kata — karena yang lebih penting pada akhirnya adalah perbuatan nyata yang dapat dirasakan oleh orang banyak.

Begitu juga dari fakta lukisan yang terukur selama filosofi itu menjadi mimpi kita katanya, maka kau dan aku dibatasi ide pelukis yang menjadi kekayaan berlimpah di dalam warna kehidupan kita.

Pada bagian ungkapan terakhir ini, kuat dugaan saya bila Anto Narasoma pun memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup — agar tak berlebihan untuk dikatakan sangat luas — tentang filsafat serta esensi dari seni lukisan dengan teknis yang rumit itu telah dikuasainya.

Inilah satu diantara yang meyakinkan saya pengembaraan Anto Narasoma pada ranah kesenian — kebudayaan — hingga filsafat sudah cukup jauh dia lakukan. Meski tak mungkin bisa mentok pada ujung perjalanan yang sesungguhnya tidak berujung itu, seperti kaki langit yang jauh di sana.

….Cobalah kau raba cuaca pertemuan klasik yang melingkari pandangan jiwamu lewat alunan perkusi gendang telingamu. Dari penggalan alenia ini kesan dari kayanya makna tentang cuaca — yang meliputi suasana dan rasa –antara kanvas lukisan yang nyata dengan gambaran yang tersimpan — tersembunyi hingga tidak bisa dituliskan dengan kata-kata dan tidak mampu dilukis dengan semua warna yang ada — sungguh kental dan imaginatif sekali ungkapannya sangat sakral dan bernilai spiritual. Maka itu, narasi tentang pertemuan klasik yang melingkari pandangan jiwamu, sungguh menyempurnakan ungkapan kejiwaan yang dapat ditangkap melalui alunan perkusi gendang telinga yang sempurna sebagai pemberian Tuhan. Artinya, kesadaran yang mengendap di dalam jiwa yang hidup, mampu menterjemahkan suara yang bergetar di kedalaman jiwa (hati) yang selalu bersinar. Begitulah pada dasarnya tak ada batas antara kanvas lukisan dengan gambaran yang tersimpan pada kedalaman benakmu, seperti makna dari manunggaling-nya kawulo lan gusti dalam perspektif budaya dan filosofis Jawa yang ditebar oleh Syekh Siti Jenar.

Hingga pada bagian penutup karya puisi penyair yang konon kisahnya berasal-usul dari Palembang ini menggambarkan lukisan kejiwaan Sang Nenek bersama Sang Cucu yang sedang memintal (menenun) selendang putih di hati Sang Cucu agar cahaya ayat-ayat sastra (karya pujangga yang indah dan bermakna) menjadi puisi cinta (yang bermakna mantra) sedalam pikiran (siapa saja) yang tidak terbatas. Persis semacam tafsir dan percercapan saya sebagai penikmat sasta (karya puisi) yang mungkin dia racik sambil menikmati gurihnya empek-empek kapal selam atau martabak Tambi yang cuma ada dan juga populer di kota Palembang. Begitulah saya jadi semakin terkesan, karena karya puisinya ini dia tulis d

pada 12 Januari 2025. Jadi rasanya sungguh sangat gurih dan masih hangat.

 

Banten, 13 Januari 2025

  • Penulis: Fahroji

Rekomendasi Untuk Anda

  • Idul Adha 1445 Hijriah, PDAM Tirta Mulia Pemalang Bagikan Puluhan Hewan Kurban 

    Idul Adha 1445 Hijriah, PDAM Tirta Mulia Pemalang Bagikan Puluhan Hewan Kurban 

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2024
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNALPRMALANG.ID – Hari raya Idul Adha 1445 Hijriah/2024, Perumda Air Minum Tirta Mulia Kabupaten Pemalang membagikan puluhan hewan kurban ke sumber-sumber mata air, masjid, hingga pondok pesantren. Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Mulia Kabupaten Pemalang Slamet Efendi, mengatakan, Idul Adha tahun 2024 Perumda Tirta Mulia membagikan 40 hewan kurban, meliputi 6 ekor sapi dan […]

  • SPPG Pelita Prabu Bumirejo Dihentikan Sementara Oleh Kasatgas MBG Kabupaten Pemalang

    SPPG Pelita Prabu Bumirejo Dihentikan Sementara Oleh Kasatgas MBG Kabupaten Pemalang

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Ragil Surono
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – SPPG Pelita Prabu Bumirejo, Kecamatan Ulujami mendapat teguran dan dihentikan sementara oleh Kasatgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Pemalang, Nurkholes. Keputusan itu diambil Kasatgas setelah adanya dugaan keracunan MBG yang dialami salah satu siswa TK Pertiwi Desa Blendung, belum lama ini. Nurkholes mengatakan, bahwa SPPG Bumirejo tidak diperbolehkan beroperasi selama proses penyelidikan […]

  • Anggota PDGI Jateng Diminta Menyebar Sampai ke Desa

    Anggota PDGI Jateng Diminta Menyebar Sampai ke Desa

    • calendar_month Sabtu, 13 Des 2025
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Dokter spesialis gigi dan mulut di Jawa Tengah diminta bisa menyebar praktiknya sampai ke desa-desa. Pasalnya, masih ada puskesmas di Jawa Tengah yang hingga kini belum memiliki dokter spesialis gigi dan mulut. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menekankan pemerataan dokter spesialis gigi dan mulut di Jawa Tengah itu, saat menghadiri pelantikan Pengurus […]

  • Safari Tarhim di Comal: Bupati Anom Bagi-Bagi Sembako dan Janji Perbaiki Infrastruktur

    Safari Tarhim di Comal: Bupati Anom Bagi-Bagi Sembako dan Janji Perbaiki Infrastruktur

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Momen Sholat Tarawih Silaturahim (Tarhim) di Masjid Nurul Huda, Desa Pecangakan, Kecamatan Comal, Selasa (24/02/2026) malam tadi jadi berkah buat warga setempat. Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, datang nggak cuma buat silaturahmi, tapi juga bawa “oleh-oleh” bantuan. Gandeng Baznas, Dinsos KBPP, dan PMI, Bupati membagikan paket beras 5 kg, uang tunai, hingga bingkisan […]

  • Wabup Nurkholes: TNI Mitra Strategis dalam Menjaga Stabilitas dan Kesejahteraan

    Wabup Nurkholes: TNI Mitra Strategis dalam Menjaga Stabilitas dan Kesejahteraan

    • calendar_month Sabtu, 11 Okt 2025
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Wakil Bupati Pemalang Nurkholes menghadiri pembukaan Military Expo dalam rangka peringatan HUT ke-80 TNI Republik Indonesia, di area Alun-Alun Pemalang, Selasa (8/10/2025). Dalam kesempatan itu Nurkholes menyampaikan bahwa momentum tersebut menjadi ajang untuk mengingat kembali peran penting lain TNI, bukan hanya sebagai kekuatan pertahanan. “Melalui momentum ini, kita diajak untuk mengingat kembali […]

  • Rektor Universitas Paramadina: Saat Ini Butuhkan Peran Mahasiswa, Perjuangan Harus Tetap Terarah

    Rektor Universitas Paramadina: Saat Ini Butuhkan Peran Mahasiswa, Perjuangan Harus Tetap Terarah

    • calendar_month Senin, 1 Sep 2025
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Universitas Paramadina bekerjasama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Menyalakan Lilin di Kegelapan: Refleksi dan Keprihatinan Bersama Masyarakat Sipil” pada Minggu (31/8/2025) melalui zoom meeting guna merespons kondisi sosial-politik di Indonesia yang terjadi beberapa waktu hari terakhir. Dalam sambutannya, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik […]

expand_less