Selasa, 18 Agu 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puisi Anto Narasoma Yang Gurih dan Masih Hangat

Puisi Anto Narasoma Yang Gurih dan Masih Hangat

  • account_circle Fahroji
  • calendar_month Senin, 13 Jan 2025 | 21:56 WIB
  • print Cetak

Oleh : Jacob Ereste

Sungguh saya mengagumi puisi Anto Narasoma yang berjudul “Memintal Kehidupan”. Terasa sekali bahasanya sederhana tapi lugas menggambarkan suasana batin antara kedua tokoh, Sang Nenek dan Cucu. Dan sejujurnya, saya pun baru mengenal puisi ini Anto Narasoma lewat tayangan media sosial, awal Januari 2025. Padahal, bisa saya pastikan jam terbang berpuisinya sudah panjang dan jauh dia tempuh.

Agaknya memang, akibat keterbatasan informasi, publikasi dan komunikasi saja yang membuat karya sastra dan penyairnya terkesan jadi kurang membumi di tanah air kita, sehingga penyair Indonesia nyaris tak pernah dilirik oleh panita Nobel Sastra di dunia.

Saya suka narasi puisinya yang seperti lukisan realis, tidak terlalu abstrak, sehingga muatan nilai spiritual yang diusung oleh karya Anto Narasoma ini enak dan jelas untuk ditangkap pesan moralbta yang ingin dia sampaikan. Saya kira, warna puisi dan gaya penulisannya yang bersahaja ini dapat dijadikan semacam model bagi kawan-kawan penyair yang masih ingin mencari bentuk dalam proses kreatif menulis puisi atau karya sastra pada umumnya yang tidak cuma untuk berindah- indah semata. Katena itu sata percaya bila pengalaman serta pencercapan batinnya dalam bentuk puisi sudah lebih terang mengarah mendekati genre puisi esai seperti yang dimotori dan digagas Denny JA dan kawan-kawan lewat media sosial dan penerbitan serta beragam acara sastra yang makin memberi harapan bangkitnya gairah sastra — khususnya dunia kesenian di Indonesia — yang terkesan lesu mulai tahun 1990-an hingga sekarang, jadi semacam kerakap di atas batu, hidup segan mati pun tak mau.

Penuturan sang Nenek kepada Cucu; sudah Nenek pintal karakter kehidupan yang mewarnai lukisan kau dan aku, ujar sang Nenek, sungguh memberi kesan adanya moral yang termuat dalam puisi ini. Apalagi kemudian dipertegas dengan ; begitu luas kanvas ini, setelah benang-benang putih itu kurajut agar warna kainnya membersihkan kata hatimu.

Artinya, betapa luasnya kanvas yang tidak terbatas itu jelas menggambarkan wilayah moral yang tidak bertepi. Sehingga benang putih yang dirajut merupakan simbolik dari kesucian hati yang harus dibersihkan — tak hanya dari kata-kata — karena yang lebih penting pada akhirnya adalah perbuatan nyata yang dapat dirasakan oleh orang banyak.

Begitu juga dari fakta lukisan yang terukur selama filosofi itu menjadi mimpi kita katanya, maka kau dan aku dibatasi ide pelukis yang menjadi kekayaan berlimpah di dalam warna kehidupan kita.

Pada bagian ungkapan terakhir ini, kuat dugaan saya bila Anto Narasoma pun memiliki wawasan dan pengetahuan yang cukup — agar tak berlebihan untuk dikatakan sangat luas — tentang filsafat serta esensi dari seni lukisan dengan teknis yang rumit itu telah dikuasainya.

Inilah satu diantara yang meyakinkan saya pengembaraan Anto Narasoma pada ranah kesenian — kebudayaan — hingga filsafat sudah cukup jauh dia lakukan. Meski tak mungkin bisa mentok pada ujung perjalanan yang sesungguhnya tidak berujung itu, seperti kaki langit yang jauh di sana.

….Cobalah kau raba cuaca pertemuan klasik yang melingkari pandangan jiwamu lewat alunan perkusi gendang telingamu. Dari penggalan alenia ini kesan dari kayanya makna tentang cuaca — yang meliputi suasana dan rasa –antara kanvas lukisan yang nyata dengan gambaran yang tersimpan — tersembunyi hingga tidak bisa dituliskan dengan kata-kata dan tidak mampu dilukis dengan semua warna yang ada — sungguh kental dan imaginatif sekali ungkapannya sangat sakral dan bernilai spiritual. Maka itu, narasi tentang pertemuan klasik yang melingkari pandangan jiwamu, sungguh menyempurnakan ungkapan kejiwaan yang dapat ditangkap melalui alunan perkusi gendang telinga yang sempurna sebagai pemberian Tuhan. Artinya, kesadaran yang mengendap di dalam jiwa yang hidup, mampu menterjemahkan suara yang bergetar di kedalaman jiwa (hati) yang selalu bersinar. Begitulah pada dasarnya tak ada batas antara kanvas lukisan dengan gambaran yang tersimpan pada kedalaman benakmu, seperti makna dari manunggaling-nya kawulo lan gusti dalam perspektif budaya dan filosofis Jawa yang ditebar oleh Syekh Siti Jenar.

Hingga pada bagian penutup karya puisi penyair yang konon kisahnya berasal-usul dari Palembang ini menggambarkan lukisan kejiwaan Sang Nenek bersama Sang Cucu yang sedang memintal (menenun) selendang putih di hati Sang Cucu agar cahaya ayat-ayat sastra (karya pujangga yang indah dan bermakna) menjadi puisi cinta (yang bermakna mantra) sedalam pikiran (siapa saja) yang tidak terbatas. Persis semacam tafsir dan percercapan saya sebagai penikmat sasta (karya puisi) yang mungkin dia racik sambil menikmati gurihnya empek-empek kapal selam atau martabak Tambi yang cuma ada dan juga populer di kota Palembang. Begitulah saya jadi semakin terkesan, karena karya puisinya ini dia tulis d

pada 12 Januari 2025. Jadi rasanya sungguh sangat gurih dan masih hangat.

 

Banten, 13 Januari 2025

  • Penulis: Fahroji

Rekomendasi Untuk Anda

  • 3.352 PPPK Paruh Waktu Pemalang Terima SK, Bupati Anom Soroti Integritas

    3.352 PPPK Paruh Waktu Pemalang Terima SK, Bupati Anom Soroti Integritas

    • calendar_month Selasa, 9 Des 2025 | 21:01 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Sebanyak 3.352 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Pemalang menerima Surat Keputusan (SK) Bupati Pemalang tentang Pengangkatan PPPK Paruh Waktu Formasi Tahun 2024. Penyerahan SK tersebut berlangsung di Stadion Mochtar Pemalang pada Selasa, 9 Desember 2025. Bupati Anom Widiyantoro dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga kode etik […]

  • Kontes Bonsai Tingkat Nasional di Pemalang, Dibanjiri Ratusan Peserta

    Kontes Bonsai Tingkat Nasional di Pemalang, Dibanjiri Ratusan Peserta

    • calendar_month Minggu, 5 Okt 2025 | 09:12 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Kontes bonsai tingkat nasional yang berlangsung di Lapangan Puri Praja Kelurahan Mulyoharjo, Kabupaten Pemalang dibanjiri para pecinta bonsai. Ada 512 peserta yang ikut serta meramaikan kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, DIY, dan Jawa Barat. Kontes yang bertajuk “Pesona Bonsai Pemalang Bercahaya” ini dibuka oleh Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, […]

  • Masuk Musim Hujan Pemprov Jateng Siapkan Sejumlah Langkah Menghadapi Bencana

    Masuk Musim Hujan Pemprov Jateng Siapkan Sejumlah Langkah Menghadapi Bencana

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2024 | 19:52 WIB
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Jurnal Pemalang – Masuk musim hujan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siapkan sejumlah langkah dalam mengantisipasi terjadinya bencana alam. Kesiapsiagaan ditingkatkan dengan menggelar apel siaga bencana, di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Senin (18/11/2024). Penjabat Gubernur Jawa Tengah, Nana Sudjana mengatakan, apel kesiapsiagaan bencana diikuti oleh instansi terkait, seperti Forkopimda, TNI-Polri, Baznas, Pramuka, relawan, dan lainnya. “Apel […]

  • Polisi Amankan ODGJ yang Masuk

    Polisi Amankan ODGJ yang Masuk

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026 | 11:24 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Laporan adanya orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masuk ke jalur tol di wilayah KM 338B langsung ditindaklanjuti petugas pada Minggu (22/3/2026) siang. Penyisiran pun dilakukan di kedua arah jalur tol untuk memastikan keamanan pengguna jalan. Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf melalui Kasi Humas melalui Kasubsi Penmas Sihumas Ipda Warsito menjelaskan […]

  • Kiyai Suradi Ulama Kab Pekalongan Yasinan dan ajak Warga Jaga Kerukunan Menuju Pilkada 2024 Aman dan Damai

    Kiyai Suradi Ulama Kab Pekalongan Yasinan dan ajak Warga Jaga Kerukunan Menuju Pilkada 2024 Aman dan Damai

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2024 | 22:39 WIB
    • account_circle Fahroji
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Warga Wagean Kec Wonopringgo Kab Pekalongan di rumah salah satu warga Bapak Khairul di selenggarakan Doa Bersama dan Yasinan yang bertujuan agar hajat pemerintah Pilkada 2024 di Jawa Tengah yang aman dan damai. Minggu (24/11/2024) malam. Hadir dalam acara tersebut adalah warga desa kurang lebih sebanyak 100 orang, dengan di isi oleh […]

  • Sensasi Unik Mangga Istana Pemalang, Diputar Seperti Alpuka Saat Mengkonsumsi

    Sensasi Unik Mangga Istana Pemalang, Diputar Seperti Alpuka Saat Mengkonsumsi

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025 | 15:20 WIB
    • account_circle Ragil Surono
    • 0Komentar

    JURNAL PEMALANG – Mangga Istana banyak dibudidayakan di Desa Penggarit, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tergolong mangga jenis harumanis. Oleh pengelola ,para petani diajak bekerja sama guna mengembangkan wisata petik langsung dari pohon. Mangga yang sudah tergolong masak pohon ini ,bisa langsung dipetik oleh pengunjung. Tak hanya itu,keunikan mangga favorit pihak Istana Negara ini […]

expand_less