Integrasi Nilai-Nilai Agama dalam Keilmuan Modern sebagai Basis Penguatan Pendidikan Berkarakter
- account_circle Tuko Chaeron
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026 | 08:50 WIB
- print Cetak

Gambar ilustrasi.(generate by IA)
Pendidikan karakter menjadi sangat penting dalam menghadapi tantangan globalisasi yang dapat mempengaruhi moral generasi muda.
Pembahasan
1. Paradigma Integrasi Nilai Agama dalam Keilmuan Modern
Paradigma pendidikan saat ini mulai bergeser dari dikotomi menuju integrasi. Ilmu tidak lagi dipisahkan antara agama dan umum, tetapi dipandang sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
Pendekatan integratif ini menempatkan nilai agama sebagai landasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ilmu tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami dunia, tetapi juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
2. Implementasi Integrasi dalam Pembelajaran
Integrasi nilai agama dalam keilmuan modern dapat diterapkan dalam koridor penyusunan kurikulum pembelajaran . Dalam pandangan Filsafat Neoskolatisisme Religius Kurikulum menurut pandangan aliran ini menekankan pada materi kajian yang berkaitan erat dengan aspek-aspek intelektual dan spiritual dari kebudayaan. Selain itu, anak didik dipandang sebagai makhluk rasional yang memiliki potensi alamiah untuk menggapai kebenaran dan pengetahuan, serta sebagai makhluk spiritual yang dapat berhubungan dengan Tuhan. Adapun guru, dilihat sebagai seorang pemimpin spiritual, seorang yang berdisiplin mental dengan kemampuan mengembangkan rasio, ingatan, dan daya kemauan pada diri anak didiknya.
Sementara Filsafat Pragmatisme berpandangan bahwa kurikulum harus disusun dengan melihat kebutuhan-kebutuhan subjek didik, maka kurikulum tidak boleh dibagi ke dalam bidang materi pengajaran yang membatasi dan tidak alamiah. Kurikulum harus dibangun atas dasar unit-unit yang alamiah (wajar) yang tidak menimbulkan persoalan dan pengalaman yang menekan pada subjek didik.
- Penulis: Tuko Chaeron


