Peran Tempat Ibadah Dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik: Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam
- account_circle Tuko Chaeron
- calendar_month Jumat, 10 Jul 2026 | 10:18 WIB
- print Cetak

Gambar ilustrasi ( generate by ia)
Research Gap
Berdasarkan penelitian terdahulu, sebagian besar penelitian masih berfokus pada aspek manajemen masjid, program pendidikan karakter, atau kegiatan ekstrakurikuler keagamaan. Belum banyak penelitian yang mengkaji secara mendalam peran tempat ibadah dalam pembentukan karakter peserta didik melalui perspektif filsafat pendidikan Islam, khususnya dengan analisis komparatif pemikiran tokoh-tokoh pendidikan Islam dan teori karakter modern.
- ANALISIS KOMPARATIF PEMIKIRAN AL-GHAZALI, AL-ATTAS, DAN THOMAS LICKONA
- Persamaan Pemikiran
Ketiga tokoh memiliki kesamaan mendasar bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer pengetahuan semata.
Mereka bersepakat bahwa:
- Pendidikan harus membentuk karakter.
- Moralitas merupakan tujuan utama pendidikan.
- Lingkungan pendidikan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian.
- Keteladanan menjadi metode pendidikan yang efektif.
Pandangan ini menguatkan pentingnya tempat ibadah sebagai lingkungan yang mampu menanamkan nilai-nilai moral melalui pembiasaan dan keteladanan.
- Perbedaan Orientasi Filosofis
| Aspek | Al-Ghazali | Al-Attas | Thomas Lickona |
| Dasar Filosofis | Tasawuf dan tazkiyatun nafs | Ta’dib dan adab | Moral education |
| Tujuan Pendidikan | Kedekatan kepada Allah | Manusia beradab | Warga negara bermoral |
| Fokus Utama | Penyucian jiwa | Penanaman adab | Pembentukan karakter sosial |
| Pendekatan | Spiritual | Epistemologis dan spiritual | Psikologis dan sosial |
| Hasil Akhir | Insan saleh | Insan beradab | Good citizen |
Kajian perbandingan Al-Ghazali dan Al-Attas menunjukkan bahwa keduanya sama-sama menempatkan aspek spiritual sebagai inti pendidikan, namun Al-Ghazali lebih menekankan proses penyucian jiwa sedangkan Al-Attas menekankan pembentukan adab. (JPTAM)
- Penulis: Tuko Chaeron


